Rabu, 17 Oktober 2012

syairku


Asmara Nusantara



Dititik yang terang itu aku menemukanmu
Dihadapan jalan setapak yang berliku aku mengingatmu
Sorotan lampu kuning yang menghangatkan kulit, seolah bersahabat dengan kisahku
Bertemankan silau cahaya angkutan kota ku genggam setangkup rinduku
Berharap kisahku tak kan berlalu

Suara gemuruh itu membangunkanku
Membuatku terbangun dari lamunanku
Deretan kursi di sampingku sudah tak berpenghuni
Mengikuti laju kereta itu,
Kereta yang menerbangkan harapanku 

Mawar putih yang dulu, kini telah layu
Yang seolah lapuk termakan waktu
Seperti itu ku gantungkan rinduku
Berharap kan kau sambut asmaraku
Menuju piramida cintamu

Malam itu seolah menati
Menggenggam kecewaan yang kau beri
kini lamunanku tiada arti
Karna kau telah bener-benar pergi
                                      
  Tarian Pena
                                                                                                                                                                   Likha




Tidak ada komentar:

Posting Komentar